Anak balita
bertanya berkali-kali pada orang tuanya begini: “Kapan aku ketemu Tuhan Yesus?”
atau “Seperti apa wajah-Nya?” Ayah dan ibunya mendekapnya lalu membacakan
cerita-cerita Alkitab yang memuaskan keingintahuan masa kecilnya. Menjelang
remaja, hati dan pikiran mereka bertunas dan pertanyaan baru bermunculan:
“Mengapa Kristus lahir sebagai bayi? Mengapa Allah punya tiga pribadi? Untuk
menyelamatkan manusia, mengapa Kristus harus disalib?” Anak remaja memang
sedang gigih mencari makna agar keyakinannya berakar dan bertumbuh dari hati.
Maka, cerita Natal seharusnya melampaui tradisi, histori, dan konsep abstrak
yang kering.
Sayangnya,
pilihan bacaan keluarga terbatas dan kalah menarik dengan teks populer yang
mereduksi Natal menjadi sekadar perayaan dan hadiah saja. Padahal, dunia batin
anak-anak butuh pengalaman yang dihidupkan melalui berbagai narasi sehingga
makna Natal meresap di semua lini, lalu mendorong rasa kagum, lalu membuahkan
pujian kepada Kristus Tuhan. Cerita-cerita Selalu Natal menyajikan pergumulan
yang dialami remaja. Jika ada luka yang masih terkurung di sana dan tidak
terurai sejak dini, mungkin saja muncul hambatan untuk menghayati Natal yang
sejati. Selalu Natal mengajak pembaca
memaknai kelahiran Kristus dari kacamata anak-anak yang kebingungan, kesepian,
kehilangan, dan tergulung zaman. Sound familiar?
Penullis
paham bahwa semua pembaca menginginkan ketuntasan yang menentramkan. Itu
sebabnya Selalu Natal mengundang
seluruh anggota keluarga terlibat dalam percakapan untuk membereskan cerita
yang mungkin terasa belum usai. Semoga empati yang terbentuk dari merenungkan Selalu Natal dapat menjadi jembatan
mengalami Injil Kristus Yesus yang gaungnya abadi dalam pikiran dan hati.