Hari Buku Sedunia (World Book and Copyright Day) yang diperingati setiap 23 April ditetapkan oleh UNESCO sejak tahun 1995 sebagai upaya global untuk mempromosikan budaya membaca, penerbitan, dan perlindungan hak cipta. Tanggal ini dipilih karena bertepatan dengan momen penting dalam dunia literasi, termasuk wafatnya William Shakespeare dan Miguel de Cervantes, sehingga menjadi simbol penghormatan terhadap kontribusi sastra bagi peradaban manusia. Pada tahun 2026, peringatan ini kembali menegaskan pentingnya buku sebagai sarana yang menghubungkan pemikiran dari masa ke masa, dengan Rabat ditetapkan sebagai World Book Capital yang mendorong literasi dan akses buku secara lebih luas.
Peringatan Hari Buku Sedunia tidak hanya sekadar perayaan, tetapi memiliki tujuan untuk menumbuhkan minat baca, memperluas akses terhadap pengetahuan, serta membangun masyarakat yang kritis dan berbudaya literasi tinggi. Buku tidak hanya menyimpan informasi, tetapi juga membentuk cara berpikir, memperluas imajinasi, dan menghubungkan manusia lintas budaya dan waktu. Seperti quote terkenal Stephen King, “Books are a uniquely portable magic,” yang menegaskan bahwa buku memiliki kekuatan untuk membawa pembacanya menjelajahi dunia tanpa batas.
Di tengah tantangan era digital di Indonesia, kemampuan literasi menjadi fondasi penting bagi kemajuan bangsa. Masyarakat yang gemar membaca cenderung memiliki daya pikir yang lebih kritis, kreatif, dan adaptif terhadap perubahan. Oleh karena itu, membangun budaya membaca bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga keluarga, lembaga pendidikan, dan seluruh ekosistem bangsa. Hari Buku Sedunia menjadi pengingat bahwa masa depan tidak hanya dibentuk oleh teknologi, tetapi juga oleh seberapa kuat dan dalam kita membaca, memahami, dan mengolah pengetahuan untuk menciptakan perubahan yang bermakna.
Lebih jauh lagi, budaya membaca yang kuat akan melahirkan kemampuan untuk merumuskan ide dan pemikiran menjadi karya nyata, termasuk buku yang dapat dibagikan kepada orang lain. Dari pembaca lahir penulis, dan dari penulis lahir dampak yang membangun sesama. Dengan demikian, literasi tidak berhenti pada konsumsi pengetahuan, tetapi berkembang menjadi kontribusi yang memperkaya kehidupan banyak orang dan membentuk generasi yang mampu memberi, bukan hanya menerima.
Jika Anda penulis atau calon penulis dan sudah memiliki naskah siap diterbitkan, kunjungi website kami untuk mengetahui prosedur dan langkah penerbitannya di sini
(Pustaka Salomo)
Silakan login dulu untuk komentar: